Friday, March 07, 2008

First Experience

Siapapun yang telah mengenalku cukup dekat dan lama pastilah tahu bahwa aku sering sekali terjangkit penyakit flu. Bisa jadi pada suatu ketika aku flu, kemudian sembuh dan sehat sekitar dua minggu, namun kemudian tiba-tiba aku sudah terkena flu lagi.

Yah, mereka bilang karena aku memang memiliki alergi yang sangat kuat terhadap debu dan udara dingin. Aku dapat dengan mudah jatuh sakit hanya karena berada di ruangan berasap rokok. Biasanya alergi tersebut menyerang tenggorokanku terlebih dahulu. Tenggorokan yang meradang membuat badanku demam, dan flu pun datang… suara ku mulai berubah bindeng, Kemudian batuk menyerang dan suaraku berubah menjadi agak bariton. Hmph…. It’s been a circle of life for me… penyakit itu seperti sudah menjadi bagian dari hidupku, dan aku belajar untuk terbiasa dengannya.

Sekitar awal februari yang lalu, aku terkena flu. Mau tau karena apa? Karena sebab yang konyol. Aku biasa menjalani ritual facial rutin, dan di salon kecantikan khusus wanita, kami biasa memakai kemben, karena selain wajah, beautician juga melakukan massage di bagian punggung. Saat itu aku sedang kelelahan, dan tempat tidurku berada tepat di bawah AC. Dan entah kenapa, beautician yang menanganiku, terlalu lama memberi waktu untuk pengeringan masker yang ia oleskan di wajahku. Berada di bawah AC, dengan hanya memakai pakaian minim, benar-benar bencana untuk alergiku.... Akibatnya, hanya dalam beberapa jam radang tenggorokan mulai menyerang.... hiks..bodohnya, pulang facial malah sakit :(

Dua minggu berlalu dan flu ku mulai mencapai tahap akhir. Sayangnya, di suatu hari senin, aku tiba-tiba merasa kepala bagian kananku sangat sakit. I hardly can’t think. Tapi aku menganggapnya sakit kepala biasa, aku tetap masuk kantor dan bekerja. Walau seharian aku memilih lebih banyak diam sambil terus bekerja, my head’s killing me! I can’t sleep, that’s a nightmare. Aku terpaksa mengkonsumsi pain killer agar bisa terlelap. Keesokan harinya aku bangun dengan kepala yang agak ringan, tapi segera setelah efek obat pereda rasa sakit itu menghilang, aku kembali merasakan sakit kepala di sebelah kanan. Dan anehnya, tidak seperti orang flu biasa yang mengeluarkan lendir, aku tak lagi mengeluarkan lendir dari hidung kananku, melainkan cairan berwarna kecoklatan berbau busuk. Aku tau ada yang tidak beres dengan itu. Dan kepalaku pun semakin sakit. Aku memutuskan pulang dari kantor agak awal, sekitar jam 5, dan langsung menuju RS terdekat dengan rumah.

Aku bertemu dengan dokter spesialis THT dan menceritakan keluhanku. Ia segera saat itu juga merujuk ku ke bagian radiologi untuk di rontgen bagian kepala. Tak sampai 15 menit hasil rontgen segera dianalisis. Dokter hanya mengatakan bahwa aku terkena Sinus. Well what a surprise. Kalau itu sih aku juga sudah tau dari lama. Dia mengatakan lagi, rongga sinus bagian depan (paranalis??? CMIIW) kananku sudah dipenuhi oleh nanah. Dan itu harus segera dikeluarkan, karena bila tidak akan menyebar ke rongga tengkorak bagian dahi, dan berikutnya ke tempat-tempat yang lebih parah lagi. Rongga sinus bagian depan kiriku pun telah hampir dipenuhi oleh nanah sejenis. Oh well, penjelasannya cukup membuatku terdiam.

Dokter menyarankanku untuk melakukan irigasi. Yaitu prosedur untuk membilas, mencuci, dan menyedot cairan dalam rongga sinusku itu. Untuk melakukan prosedur tersebut, pasien harus dibius total. Duh, kepalaku makin pusing mendengar kata-kata dokter itu. Apalagi saat itu aku hanya seorang diri, hiks mendadak aku merasa sangat lemah... Dan untuk menambah penderitaanku, dokter juga menyarankan untuk melakukan rekonstruksi tulang hidung. Karena tulang hidung dalam bagian kananku, cenderung bengkok dan menghambat pernapasan.

Well enough information for one night. Aku cuma berkata akan mempertimbangkan saran dari dokter itu, dan membawa pulang obat-obatan pereda rasa sakit yang ia berikan.

Aku memutuskan untuk mendapatkan second opinion. Dua hari kemudian, sepulang kantor aku pun menuju sebuah rumah sakit khusus THT. Rencanaku adalah bertemu dengan seorang profesor dan guru besar THT cukup terkenal yang praktek di RS tersebut. Sayangnya setelah menunggu cukup lama, seorang perawat mengabarkanku bahwa Prof tersebut tidak praktek hari itu. Untuk mengobati kekecewaan, akhirnya aku dipertemukan dengan dokter pengganti. Ia memperkenalkan dirinya sebagai kepala bagian THT di RSCM (penting ya??). Dokter inipun menganalisis hasil rontgenku dan memberi kesimpulan yang sejenis seperti dokter yang sebelumnya. Perbedaannya, ia tidak mengharuskanku untuk melakukan rekonstruksi tulang hidung. Karena menurutnya penyebab dari flu ku selama ini adalah alergi yang akut dan bukan karena tulang hidungku yang bengkok. Jadi tidak akan terlalu banyak pengaruh seandainyapun tulang hidungku direkonstruksi menjadi lurus.

Aku membawa informasi itu pulang. I slept on it, literally... Tentu saja aku tetap bisa menolak melakukan irigasi dan menanggung risikonya sendiri. Toh, I’m a grown up person... tapi logikaku memutuskan untuk melakukan prosedur itu. Walau seumur hidup aku belum pernah menjalani operasi, apalagi dengan bius total. Rasa cemas menyelimuti perasaanku. Bagaimana bila aku tidak bangun dari bius total? My beloved mother juga tidak pernah bangun lagi setelah melakukan operasi di bagian kepala. Ok, it scares me a little...

Tapi kuputuskan untuk melupakan ketakutan konyol itu dan berkata dalam hati “Singodipuron women don’t stop for fear. And your a Singodipuron Din, don’t embarassed your great great ancestors”.. Ok, arogansi trah keluarga kejawen ternyata mampu memompa semangatku. Akhirnya kuselesaikan semua urusan di kantor sebelum aku meminta izin kepada bosku untuk tidak masuk selama 3 hari. Segera setelah urusan jaminan perusahaan untuk rumah sakit beres, keesokan harinya aku datang ke RS untuk menjalani operasi irigasi sinus. Aku bertekad untuk sembuh.

--------------------------------------------------------------------------------------------------

And here I am… three days after first experience of an operation. And I did wake up :)

Labels:

Thursday, March 06, 2008

Ayat-Ayat Cinta, the movie

Akhir Februari yang lalu, akhirnya film yang telah lama kutunggu kehadirannya, mulai ditayangkan di bioskop-bioskop. Film ini diangkat dari novel religi berjudul sama yang terbit di tahun 2005, Ayat-Ayat Cinta. Ditulis oleh Habiburrahman El Shirazy alias Kang Abik. Novel itu sendiri telah menjadi best seller sampai sekarang, dan telah dicetak ulang ribuan copy.

I’m actually not a big fan of that novel (silakan cari di archive blog ini tulisan saya sebelumnya). Tapi fakta bahwa sebuah novel yang sarat akan nuansa Islami, difilmkan, dan ditayangkan di bioskop komersil bersama film-film Hollywood plus film-film horor standar Indonesia lainnya,…benar-benar menggelitik rasa penasaranku.

Aku sudah menunggu film ini tayang sejak akhir tahun lalu. Hal yang membuatku heran, kenapa penayangannya seperti ditunda-tunda. Padahal video klip dari soundtrack film ini yang dinyanyikan jeng Rosa sudah lama wira-wiri di layar kaca. Supaya masyarakat jadi tambah penasaran? Well I must admit, it did work!

February 24th, aku baru sadar bahwa film itu telah diputar di 3 bioskop ternama. Aku merasa kecolongan, karena mereka bilang tayangan perdananya adalah tanggal 28 Februari! Setelah mengikuti festival Cap Go Meh (yang sebenarnya dibatalkan, tapi aku terlalu bersemangat dan tidak sempat membaca koran pagi) di daerah kota tua, aku berhasil membujuk my sista dan bocah 14000, untuk beranjak ke bioskop terdekat. Sayangnya, karena kemacetan dan problem mencari tempat parkir, kami tidak berhasil mendapatkan tiket.. I’m so disappointed and determine to watch that movie no matter what! Hehe, kaya’ obsesi apaan gitu… :D

At the office the other week, sempat ada ajakan untuk nonton bareng rame-rame. Well, karena sekarang aku punya rekan seumuran, dan subord yang hanya sedikit lebih tua, ide itu cukup menarik juga. Sayangnya, karena kesibukan, ide itu menguap begitu saja…

And days goes by, akhirnya di hari Jum’at berikutnya, jadi juga aku menonton film itu. Tadinya sih ingin mengajak banyak orang, kaya’nya enak nonton rame-rame. Tapi karena mendadak, jadi ya cuma bisa berempat saja.

And here it goes… I must say that I kinda like that movie! Terlepas dari fakta bahwa banyak bagian film tersebut yang tidak sesuai dengan novelnya. Sebagai contoh:

  1. Karakter Maria digambarkan selalu memakai pakaian sopan, tertutup dan panjang. Di film sayangnya, yang terlihat adalah Maria yang cukup modis dengan rok selutut dan kemeja/kaos pas badan.
  2. Novel AAC sangat kuat dengan cara penulisan yang manis… Kita bisa merasakan suasana Mesir tergambar dengan jelas hanya dengan membacanya. Di filmnya, walau bersifat audio-visual, aku benar-benar tidak merasakan nuansa Mesir. Bisa dimaklumi karena pengambilan gambar untuk film tersebut dilakukan di India dan daerah kota tua Semarang (ha? Mesir di Semarang?? Becanda ya…)
  3. Penggambaran karakter Fachri oleh Ferdi Nuril terlalu “lembek”… Fachri yang yang kubaca di novel adalah sosok pemuda muslim sederhana yang memiliki prinsip yang kuat, tegas, tapi juga lembut dalam memperlakukan sesamanya. Sedangkan Fachri yang kulihat di film…hm…agak-agak mengecewakan… Terlalu cengeng, klemar-klemer dan terkadang jayus.
  4. Terakhir… aku sangat terganggu dengan suara cempreng Rianti yang memainkan sosok Aisha. Saat dia diam dan memakai cadar, penggambarannya sangat pas sekali. So angel-like.... Tetapi saat dia mulai membuka mulutnya dan bersuara, ugh... the angel just vanish! Rianti dear, would u consider dubbing? :P

Aku juga agak kecewa dengan pemilihan sutradaranya… (Kok Hanung Bramantyo ya??) Selama ini kan dia lekat dengan film-film seperti Get Married atau Kamulah satu-satunya. Pemilihan casting film juga agak membuatku heran…. Tapi…ya masih bagus mas Hanung enggak nunjuk Nirina Zubir jadi Aisha (selama ini Nirina selalu jadi favorit hanung untuk peran utama wanita).

Walau demikian, untuk sebuah film Indonesia, AAC cukup patut diacungi jempol. Genrenya sangat berbeda dengan film-film yang saat ini memenuhi studio bioskop. Kehadirannya seperti membuat kita tersadar, bahwa orang Indonesia tidak cuma bisa bikin film horor atau romansa ABG gak penting. Salut untuk MD Entertainment yang telah berani mengambil risiko dan memfilmkan AAC!

http://www.ayatayatcintathemovie.com/


Labels:

Friday, January 25, 2008

Habis Gelap Terbitlah Terang

Iya, orang di ujung berung pun tahu, habis gelap pasti lah akan terbit terang. Sebenarnya aku pun sudah sering mendengar kalimat bijak itu. Tapi tetap saja aku mendapati diriku terkejut mengalami “terang” yang datang bertubi-tubi setelah gelap menghampiri.

Pertengahan Januari yang lalu unit kerjaku dikejutkan dengan pengumuman pencapaian kinerja kami pada tahun 2007. Ternyata angkanya jauh melebihi target! Belum habis keterkejutan itu ternyata nilai kami pun merupakan nilai tertinggi pada tataran unit kerja setara di departemen. “Kok bisa??” itulah respon pertamaku. Mengingat segala tangis darah yang dialami di 2007, aku berasumsi bahwa penilaian unit kerjaku akan menurun drastis. Tapi ternyata tidak… cucuran keringat itu ada hasilnya ternyata (sebenernya sih gak berkeringat di ruangan AC :P). Subhanalllah!

Pengumuman nilai direktorat kami pun tak kalah menggembirakan, “ijo royo-royo” begitu diistilahkan oleh pejabat terkait. Aura kemenangan terasa di sekitarku… Hua, terharu…. ;(

Kalau boleh jujur, aku memang tidak pandai bercerita saat sedang bahagia, jadi aku tidak bisa menggambarkan dengan jelas perasaanku di bulan Januari ini. The point is, January effect totally not happening this year!

Keberadaan pejabat sementara pengganti bosku yg masih terbaring di rumah sakitpun terasa melegakan. Karena aku merasa lebih klop dengan pejabat sementara ini. Kalau boleh sih, berharap bahwa ia akan menjadi pejabat tetap. Tapi kok kesannya tega karena my real boss is still sick. Bingung deh... jadi kaya selingkuh :P

Ya sudahlah, yang pasti hidup ini memang berotasi terus... Tuhan tidak pernah tidur, Ia selalu melihat, dan mendengar doa hambaNya.... Cayo everyone!

Labels:

Wednesday, January 09, 2008

Defining Life (#1 Job Aspect)

Kata orang bijak, kita harus mampu mendefinisikan dengan detail hidup yang kita inginkan, baru kemudian kita dapat meraihnya. Untuk mendefinisikan hidup, kita dapat memulai dengan membuat daftar hal-hal yang tidak kita sukai atau inginkan dalam hidup lalu mempolarisasikannya dengan daftar hal-hal yang kita sukai dan inginkan.

Hm….aku akan mencoba mendefinisikan hidupku dalam beberapa aspek…let me start my list..

Yang pertama adalah tentang pekerjaan….

I hate my job. Untuk orang yang cukup dekat denganku mungkin sudah tahu benar tentang ini. Aku benci rutinitas yang harus kujalani setiap hari, seperti siksaan tak berkesudahan. Saat mencoba mencari tahu apa sebenarnya yang aku benci dari pekerjaan ini, aku mendapat jawaban bahwa aku tidak menemukan apa yang kucari di sini. Tidak ada chemistry, tidak ada perasaan menggebu di dalam dadaku tentang pekerjaan ini. Aku benci harus bangun pagi setiap hari, terburu-buru karena takut terjebak dengan kemacetan Jakarta yang kian hari makin gila, berlari-lari untuk absen, karena dalam pekerjaan ini absen bisa mempengaruhi kariermu sampai pensiun. Aku benci dengan kegilaan pekerjaan sehari-hari, suara teriakan manusia, suara deru mesin-mesin cuci yang sibuk memprint ratusan lembar laporan ukuran A3, suara telepon yang mewajibkan untuk mengangkatnya sebelum dering ke tiga. Dan masih harus juga berurusan dengan ”politik” kantor, deal with co-workers dan subordinates dari mulai pelaksana sampai ke cleaning service. And I don’t have the desire to serve customer. Dan ya, itu sangat buruk sekali untuk bidang pekerjaanku. Tentu saja aku bisa tetap tersenyum menghadapi customer jenis apapun, tetapi agak sulit bagiku melupakan customer yang memaki atau menggunakan kata-kata menyakitkan lainnya. Dalam hal ini, aku baru menyadari bahwa bekerja di bidang service benar-benar adalah perjuangan. Karena ya, semua orang ingin dilayani, dan mereka menuntut mendapat pelayanan yang sama.

Mungkin sebenarnya aku hanya tidak cocok dengan bisnis unit tempatku berada sekarang. Well, the company has a lot of business units. Dan semuanya memiliki goal yang berbeda. Agak penasaran juga, will I found my desire in other units? I always have passion in Risk Management. Satu-satunya unit yang membuatku tertarik adalah unit yang berhubungan dengannya. Tetapi untuk menuju ke sana tentu saja aku harus lepas dari unit yang sekarang… dan sedihnya, lulusan pendidikan “anak emas” di perusahaanku, jarang sekali bisa dilepas begitu saja oleh sebuah bisnis unit. Unit yang dituju sih lebih mudah, tinggal menerima, tapi bagi unit yang ditinggal tentu akan jadi lebih repot karena harus mencari pengganti. Dan lagi, aku juga bertanya pada diriku sendiri, apakah aku tetap akan bertahan di perusahaan ini setelah 3 tahun ikatan dinas??? Yang tidak cocok sebenarnya unitnya atau perusahaannya ya? Hm….

Selain pekerjaan yang membuatku gila, because I don’t love it at all. I don’t love the environment also. Sekarang aku harus bekerja di lingkungan yang sangat berbeda generasi denganku. Co-workers ku berumur kisaran 37-45 dengan bos langsungku berumur 49-54, usia yang mendekati masa pensiun. Oh God, it’s frustating! Memang ada juga yang kisaran umurnya agak dekat denganku, under 30, tetapi biasanya mereka adalah anak baru (kontrak/outsource) atau minimum pelaksana junior, yang obrolannya tidak terlalu nyambung…Jaka sembung doyan combro, kagak nyambung Bro!

Jadi aku terpaksa memiliki alter ego, me in the office and me outside the office! Di luar kantorlah baru aku bisa menjadi diri sendiri, express my self truly. Tetapi waktu untuk menjadi diri sendiri sangat sedikit karena waktuku lebih banyak dihabiskan di kantor dibanding di luar. Saat orang-orang cuti bersama, I am stuck in the office. Saat sedang libur pun, aku harus stand by bila sewaktu-waktu di telp. Ugh, I want time for me only please…. ;(

By the way, I really hate because I am placed in the unit where I have to wear uniform. I think the obligation to wear uniform is a new form of imperialism.. :P Ya iyalah, karena semua orang harus tampak seragam, samaaaa semua, tidak ada yang boleh berbeda. Padahal pada kenyataannnya kan semua orang berbeda-beda, punya selera masing-masing. Bagiku seragam telah membuat kebebasanku terpasung. Padahal telah banyak peraturan lainnya di pekerjaan yang sudah cukup memasung kreatifitas. Aku pecinta warna, dan sangat tidak suka harus memakai warna yang sama dengan jadwal yang sama setiap minggu. Aku pecinta style yang perfeksionis, dan merasa tersiksa harus memakai sesuatu yang aku rasa jelek… :(

Okay..okay…after defining what I hate about my job, now I’m gonna define what I REALLY want in job…

Hm.. I’m a intuitive person. Bagiku rasa adalah yang terpenting. Aku ingin pekerjaan yang aku tahu di dalam hati bahwa “this is the one!” Dulu aku kira pekerjaan di gedung-gedung pencakar langit adalah apa yang kuinginkan... well, I get it all wrong. Or not 100% wrong? Dunno..

First, aku cuma ingin bekerja dengan orang-orang yang aku sukai, menyukai hal yang sama, dan memiliki mimpi yang sama. Aku ingin bisa memiliki looong nice talk/discussion dengan co-workers tentang mimpi-mimpi besar kami. Dan mimpi itu adalah tujuan pekerjaan kami.... It’ll be amazing if a person can find a job like that. Working with people who’re on the same page with u, is motivating yet make u go forward faster than ever to reach goals.

Second, I want to be the master of my time... aku ingin bisa memutuskan kapan harus bekerja keras dan kapan harus menikmati hidup :) After all, I’m a discipline and responsible person…. I don’t like other person/company control my schedule as if I don’t have one.

Third, I want to have Vision in working. Cause it’s the most important thing! It what makes ur heart bumping… It flows adrenalin in your body. OOT dulu, ngomong-ngomong soal adrenalin, aku pernah membaca artikel tentang kasus perselingkuhan pada pasangan yang telah menikah lebih dari sepuluh tahun. Salah satu alasannya adalah karena mereka merindukan adrenalin dalam hidup mereka yang sangat rutin dan membosankan. (Well, u know how a marriage can be so boring because it last for….uhm, just a life time! Bayangkan jika tidak menjalaninya dengan orang yang tepat!).. Ok, kembali ke Visi… Ya, aku percaya bahwa visi adalah sesuatu yang menggerakkan orang untuk bertindak, sebuah alasan, a greater good. Yang kesemuanya akan bermuara pada pemenuhan tujuan hidup kita sebagai makhluk Tuhan. Just completing the assignment as Khalifah in this earth.

Fourth, I want to meet a lot of different people. Cause people can teach u the lesson of life. Semua orang itu unik. Semua orang punya kisah masing-masing. Dan kita bisa belajar banyak hanya dari pengalaman orang lain. I love meeting other people (but not in crowd-kind situation). I love listening, talking about anything… I just love the idea of share!

Five, I off course still want to make fortune from my job. Karena aku percaya ada kekuatan di kelebihan. Kita perlu lebih untuk memberi. Kita perlu menjadi pribadi yang mandiri secara finansial agar kita tidak lagi berkutat dengan urusan perut. Bagaimana mungkin seorang guru bisa mendedikasikan dirinya untuk pendidikan, bila di kepalanya yang ada adalah pikiran tentang susu anaknya yang tak mampu ia beli, cicilan motor yang belum terbayar, atau rumah petak yang telah ia hipotikkan ke lintah darat untuk membayar biaya rumah sakit operasi caesar istrinya?? So, I believe that proper financial aspect is a must have item in an ideal job for everyone.

Dari daftar hal-hal yang kuinginkan dari pekerjaan itu, aku masih punya banyak PR untuk membumikannya menjadi daftar pekerjaan yang kiranya cocok untuk kujalani. Yah, aku masih punya waktu 2,5 tahun lagi to figure it out what am I going to be next, if being a banker is not the answer and I decide to leave the company :)

The point is, aku sudah mendefinisikan aspek pekerjaan dalam hidupku, apa yang tidak kusukai, dan apa yang sebenarnya kuinginkan. Dan ini membantuku untuk melihat mengapa begini dan mengapa begitu. One secret reveal itself…..

Labels:

Sunday, January 06, 2008

Gloomy New Year

Tahun baru…. Hm.. Aku sebenarnya bingung, apa yang baru dari semua itu. Hanya perubahan tanggal di sistem, digit terakhir pada tahun secara otomatis bertambah satu, dan tentu saja digit pada bulan kembali ke angka satu... Kemudian perusahaan-perusahaan besar ramai-ramai mencetak kalender baru mereka. Mulai dari kalender dinding, kalender meja, sampai kalender robek yang jadul pisan….Di mana-mana manusia seperti tersihir dengan tawaran sale akhir tahun yang digelar di hampir seantero Jakarta. Sale akhir tahun yang konyolnya masih terus berlangsung sampai awal Januari ini (lalu untuk apa mereka menyebutnya year’s end sale?) Setelah itu orang-orang juga sibuk mencari kegiatan untuk melewati malam tahun baru mereka. Libur akhir tahun yang lumayan panjang memberi mereka kesempatan untuk lari dari keseharian ibukota yang membelenggu (tunggu-tunggu, libur panjang yang mana ya???) Terus terang, euforia itu doesn’t excited me well....

Beberapa momen di hari-hari terakhir bulan desember lalu masih menghantuiku sampai sekarang… (Yah, kita semua memang hidup dengan hantu kita masing-masing kan?) Dan entah mengapa, aku merasa tahun baru kali ini begitu gloomy and dark… Bukan berarti bahwa biasanya hidup terasa begitu indah dan colurful sih… tapi entah mengapa aku merasa awan gelap menaungi hidupku sejak bulan desember lalu. Aih, andai aku punya alat peniup awan, akan kutiup pergi jauh-jauh awan yang kurang kerjaan itu.

Tadinya aku berencana untuk pergi ke tempat yang jauh pada liburan tgl 20-26 desember yang lalu. I don’t know, Papua maybe.. atau kalau kemahalan ya ke KL aja. Tapi pada awal des aku diberitahu bahwa aku hanya mendapat libur sejak tanggal 20-23. Oke, say good bye to long trip… quite dissapointing.. :( But i’ve manage to stay focus. Tapi kemudian beberapa hal datang lagi, tugas bertubi-tubi yang dengan menyebalkannya hanya diberikan kepadaku…Bukan cuma satu, tapi dua…ternyata bukan dua, tapi tiga…. bukan tiga, tapi empat….dan teruuuus nambah aja deh…. Dengan alasan karena aku paling muda, masih banyak tenaga, belum berkeluarga, sehingga tidak perlu repot memikirkan anak dan lain sebagainya.. (memangnya alasan seperti itu bisa dibenarkan secara profesional??)

Sampai pertengahan Desember aku merasa kepalaku seperti sudah mau pecah…. Pikiran, tubuh, jiwa dan ragaku sangat letih… sabtu-minggu kuhabiskan dengan istirahat seharian. Tapi kepalaku tetap pusing memikirkan pekerjaan, perutku sakit karena tegang, dan sedihnya aku pun mengalami insomnia. Bukannya bulan-bulan sebelumnya load kerjaan tidak sebanyak itu, tapi entah mengapa ketahananku seperti sudah mau habis di bulan Desember ini.

Lalu kabar buruk datang lagi, libur benar-benar dihilangkan, maju terus pantang mundur tanpa libur… Fiuh-fiuh… satu-satunya hal yang agak membahagiakanku tentang bekerja di hari libur adalah, aku tidak harus berkutat dengan kemacetan Jakarta yang semakin gila-gilaan. Hm…Jakarta terasa menyenangkan sekali di hari libur panjang.

With a pain in my heart, i’ve manage to smile and get things done. Selesai? Ternyata semua cobaan itu masih belum cukup, sore hari tgl 21 Des my boss had a stroke attack in the office. It was awful.

Berada dalam situasi seperti itu ternyata traumatic. Aku masih ingat betul bagaimana kami segera membawanya dengan kursinya melalui lift barang, langsung ke basement tempat parkir mobil kantor, dan segera melaju ke RS tempat dia biasa berobat. Atmosfer kepanikan kental terasa di dalam mobil saat itu. Tangan kanan bos ku menggenggam tanganku erat, sementara bagian tubuh kirinya sudah tidak berasa. Keadaannya menyedihkan, sesekali muntah dan mendengkur.

Kami berlari masuk ke IGD, sempat teriak-teriak sama satpam dan suster yang santai saja melihat kedatangan kami. Semua orang emosi saat itu. Sempat aku berharap, kalau saja ini hanyalah satu adegan di dalam serial E.R. atau Scrubs. But no, it’s just reality. Malam itu juga setelah CT Scan dan diketahui adanya pendarahan di dalam kepalanya, my boss was being operated. Bagian belakang kepalanya di bor untuk mengeluarkan cairan.

Dia tetap berada d ICU sampai 2 minggu kemudian. Saat aku menjenguknya terakhir kali, i barely can’t handle the tears in corner of my eyes. Tapi aku sadar, itu bukan saat yang tepat untuk menunjukkan kesedihan. Bukankah manusia harus kuat? :) Saat tulisan ini dibuat, Alhamdulillah bosku sudah pindah ke ruang perawatan biasa. Membaik? Hm... ya ”tentu saja”.. If u know what i mean.. :|

Reality bites: harus ada yang menggantikan pekerjaannya kan… dan secara bergantian aku dan dua rekan lainya menggantikan posisi beliau. Berat karena kami juga masih harus bertanggung-jawab dengan pekerjaan masing-masing.

But, the year has ended…. Dengan kekacauan di sana-sini tentunya…

Dan saat tiba waktunya menghitung detik-detik pergantian tahun... I feel to gloomy to end it alone, akhirnya aku pun bergabung dengan rombongan huru-hara pekerja umur twenty something yang kurang kerjaan di malam tahun baru. Just have a crazy karaoke time... nyanyi lagu-lagu jadul gak penting yang dulu sering kita ketawain... (haha, what a hypocrite!) and have a fine dining dengan promo diskon 75 %.. yah ada kalanya perlu menikmati fasilitas kan? :)

Dan kemudian saat matahari pertama di tahun 2008 menyapa, reality strikes me back.... batinku berteriak.... ”Aduh, target tahun 2007 ancur semua, alamat kaga dapet bonus nih unit kerja gw!!”

Huuuaaaaaaa.....selamat dateng deh buat 2008, semoga dirimu lebih ramah dibanding pendahulumu.... Amien....!

Wednesday, September 26, 2007

Ugly Betty

Dua mingguan ini aku sedang addicted dengan sebuah TV series, yup it’s Ugly Betty! :) Seperti dapat diduga, serial ini diadaptasi dari telenovela sejenis yang dulu sempat boom di beberapa Negara (juga di Indonesia), Yo Soy Betty La Fea, remember? Still remember Armando pastinya :))


Awalnya aku tertarik untuk menonton serial ini karena sekedar penasaran. Biasalah, ingin tahu seperti apa hasilnya Betty La Fea versi Amrik. Untungnya tanpa diriku perlu repot-repot membeli atau meminjam, season 1 serial itu telah tersedia di rak DVD kamarku (thanx to sista :-*).


Dan mulailah aku menonton satu demi satu episodenya.


Terdapat perbedaan signifikan antara Betty versi Amrik ini dengan versi latinnya. Mulai dari sosok fisiknya -> Betty latino diperankan oleh Ana Maria Orozco, artis yang kurus, dengan rambut yang dikeriting (aslinya sih lurus). Betty Amrik diperankan oleh America Ferrera, yang seperti kita tahu, memang bukanlah artis yang langsing, dan memang memiliki rambut asli yang ’seperti manusia normal’. Lihat lah perbedaannya:




Perbedaan lain selain fisik pemeran Betty:


Betty La Fea


Ugly Betty

Sifat

Pemalu, ringkih, enggak pede-an

Lebih pemberani, pede, dan lebih tampak cerdas


Keluarga

Ayah dan ibu

Ayah, kakak perempuan dan keponakan laki-laki (yang sepertinya ’gay’ ~~)


Pasangan

Tidak pernah ada. Tapi ada teman sepermainan laki-laki yang juga uhm... ’nerd’

Ada, teman satu lingkungan perumahan. Bekerja di toko elektronik. Walau akhirnya mereka berpisah.


Pekerjaan

Sekretaris di perusahaan penyedia bahan pakaian -> fashion thing (CMIIW)

Asisten ‘Editor in Chief’ sebuah majalah fashion ternama


Love Obsession

Armando Mendoza, bos nya. Yang akhirnya menjadi suami Betty

Henry, co-worker di kantor, bagian Accounting. Love of her life?


Tokoh sentral

Betty dan keluarga, Armando dan keluarga, plus tunangan Armando

Selain Betty?? Banyak banget! :D

Rada njelimet memang cerita Betty versi Amrik ini, karena begitu banyaknya pengembangan tokoh dan cerita di sana-sini. Tampaknya memang serial ini tidak sekedar cerita lucu-lucuan tentang evolusi seorang gadis berpenampilan aneh yang sontak berubah menjadi cantik. Nyatanya sampai akhir season 1 pun, sosok Betty masih belum diubah menjadi cantik. Padahal aku sudah penasaran sekali ingin melihat, kapan siiih Betty jadi cantik... :| Kok lama banget ya?


Cerita malah berkembang macam-macam, tentang konflik keluarga bosnya Betty lah, masalah Ayah, kakak, sampai teman-teman di kantor lah... Panjaaaang banget deh. Menarik sih, karena serial ini cukup bertabur bintang.
Seperti Vanessa Williams, penyanyi ’Save the best for the last’. Salma Hayek, sempat main di banyak episode (maklum, kan dia Executive Producer serial ini). Sempat juga hadir Lucy Liu sebagai bintang tamu di beberapa episode (cantik banget!).


Isu-isu yang hadir dalam Ugly Betty juga terkesan berani dan blak-blakan. Yah sebut saja isu transgender, gay, addiction, ambisi manusia yang kelewatan, palsunya dunia fashion, puber keduanya orang tua, lonely people around us, hadirnya anak tanpa pernikahan, isu keimigrasian, sampai isu-isu sederhana tentang cinta, baik antar teman, keluarga, maupun lawan jenis. Pokoknya komplit banget deh!


Sekarang aku sedang penasaran nih, menunggu Betty season 2… seperti apa ya nanti akhirnya…. In the end sih, aku cuma ingin melihat transformasi Betty dan sama siapa dia akan berakhir :))


Berikut beberapa scene favoritku dari serial ini:

  • Saat Alexis Meade pertama kali muncul...... *perfect abis!*

  • Semua adegan yang ada Henry nya :)) Terutama adegan slow motion saat Betty menyadari jantungnya berdegup kencang dengan hanya bertukar senyum dengan Henry -> adegan saat pesta natal di kantor. Dan saat henry memberi hadiah snow ball untuk Betty -> Ooooh….. that is so sweet...
  • Saat Amanda memakai baju karet aneh yang katanya hadiah dari seorang desainer -> it’s so hilariously funny! :)) Sayang enggak ada gambarnya

Sedangkan karakter favoritku:

  • Henry -> such a nice guy!
  • Marc -> lucu, terus-terang walau kejam, tapi loyal dan bisa jadi teman yang menyenangkan


What's your favourite? :)

Labels:

Tuesday, September 25, 2007

The right time to have a heart-to-heart conversation (!)

Perkenalkan Pak Andre. Dia adalah instruktur menyetirku ;)

Ya, sejak sebulan yang lalu aku mengikuti kursus mengemudi :”> Walau agak memalukan tapi aku berusaha tebal muka tentang aktifitas baruku ini. Pasalnya aku benar-benar ingin memiliki “kaki” sendiri di Jakarta ini. Aku sudah cukup bosan dengan diantar atau dijemput, capek nebeng-nebeng, tepar berdiri di patas, dan terancam kere kalau pulang naik taksi (-> tarif Blue Bird ke rumahku dari kantor adalah sekitar 45-50 ribu rupiah, belum termasuk tol). Akhirnya aku memutuskan, aku harus bisa bawa mobil sendiri! Pokoknya harus bisa! Terus belajar sama siapa ya? Hm… Daripada lama mencari siapa yang bisa mengajariku dan mobil siapa yang harus menjadi korban, akhirnya kuputuskan untuk mendatangi kursus mengemudi terdekat.

Dan disanalah aku dipertemukan dengan Pak Andre… (kaya apaan aja :P)

Dia pria paruh baya, sekitar 40 tahunan, keturunan Chinesse yang lebih senang dikatakan sebagai orang Lampung, kecil, kurus, dengan punggung yang sedikit bungkuk. Wajahnya tampak jauh lebih tua dari pada umur sebenarnya, berkerut dan berlekuk di sana-sini, tapi kala dia tersenyum, kerut dan lekuk itu justru membuat wajahnya terkesan hangat.

Dua jam pertama mengemudi dengan Pak Andre, tentu saja aku sibuk dengan kaki yang pegal menginjak kopling-gas-rem di jalanan daerah Cengkarang yang macet pisan… Sibuk teriak panik,

“ini belok kanan, kiri atau lurus Pak?”
“Gigi satu ya Pak?”
“Kok giginya gak bisa dipindah Pak?”
“eh ini mah gigi 5 ya”
“Paaak ini gimanaaaaaaa???”

Yah… hal-hal seperti itulah :)

Luckily, Pak Andre benar-benar instruktur yang berpengalaman dan mahir. Dia tahu benar bagaimana memanduku tanpa membuatku merasa ’bego banget’ atau tanpa ikut panik seperti diriku. Aku bisa berkata seperti ini, karena aku sudah pernah lho ikut kursus setir mobil sebelumnya :D Yup, di jogja dulu semasa SMA. Tapi sama sekali tidak sukses, mungkin karena jalanan di Jogja cenderung ’mudah’, jadi belajarnya kurang tantangan :D Dan trauma juga sama cara instrukturnya memandangku. Seakan-akan matanya berkata ”kamu benar-benar enggak berbakat nyetir ya” ~~ hue....

Singkat cerita, Sabtu yang lalu adalah pertemuan ketigaku dengan Pak Andre. Entah kenapa hari itu dia nampak gloomy. Kupikir mungkin dia lelah karena baru saja mengajar dua jam juga tepat sebelumku.

Tak berapa lama setelah mobil kursus itu kukemudikan ke arah Sudirman (Aku sudah bilang kalau hari itu Sudirman ditutup untuk kendaraan pribadi, tapi Pak Andre tetap maksa ke arah sana ”Supaya bisa ngerasain berangkat kerja bawa mobil sendiri...kan dini kerja daerah sana” begitu alasannya.) Pak Andre mulai bergumam-gumam sendiri sambil menundukkan kepalanya. Dengan pikiran yang sebenarnya masih fokus ke jalanan, kucoba mengupas ada apa dengan dirinya hari ini. A bad day?

Daaan, dia mulai bercerita..... tentang perselingkuhan itu.. :|

Istrinya berselingkuh dengan teman chattingnya dari Sulawesi. Yang akhirnya kopi darat dan saling jatuh cinta. Tanpa sepengetahuan Pak A. Dia sama sekali tidak menyadari adanya perselingkuhan itu. Yang dia tahu hanyalah, hubungannya dengan istrinya menjadi memburuk dari hari-kehari. Pertengkaran demi pertengkaran mewarnai hari-hari dalam rumah tangga mereka. Sampai akhirnya istri Pak A menuntut cerai. So be it...

Setelah perceraian itulah baru Pak A menyadari ada yang tidak beres dengan hubungan antara istrinya dengan teman chattingnya itu. Ternyata semua pertengkaran-pertengkaran itu adalah bagian dari skenario mereka untuk menyingkirkan Pak A. Pak A memang dipancing terbakar emosi agar setuju bercerai. (Hua....teganya.... ) Tapi apa dinyana, nasi telah menjadi bubur..

Akhirnya Pak A kehilangan istri yang telah mendampinginya selama 18 tahun. Mantan istrinya itu akhirnya menikah dengan selingkuhannya dua bulan yang lalu. Yang lebih menyedihkan, seluruh barang-barang di rumah dibawa habis oleh istrinya. Dan bukan hanya barang-barang, begitu pula anak-anak. Intinya, Pak A benar-benar ditinggal sendiri tanpa sesuatu apapun. What a cruel way to get divorce, ha!

Selama Pak A bercerita, bagaimana denganku? Hm.... Hm...... Still driving offcourse!! >:) Masa’ iya mampir dulu di Starbucks, pesan ice blended caramel dengan whipped cream terus duduk manis sambil mendengarkan cerita Pak A? ‘Emangnya sesi curhat..

Aku jadi berpikir,

“Hello you’re suppose to help me in driving… yuhuuu…. Not lettin’ me driving without guide while having a heart-to-heart conversation…. :| “

Tapi aku sadar, itu bukan saat yang tepat untuk menyadarkan Pak A tentang kewajibannya. He’s so flip out.. Akhirnya aku pasrah saja, sambil berdo’a

“Ya Allah, ampunilah dosa-dosaku, dosa kedua orang tuaku, kakakku, keluargaku, dan semua orang yang kucintai. Jauhkanlah kami dari azab kubur dan siksa api neraka ya Allah….”

Hasilnya…. Hm… let’s just say…aku hampir saja mencelakai seorang pengendara motor, hehe :)

Saat itu aku berada tepat di depan tanjakan dari arah Kuningan. Itu lho, kan ada tanjakan, yang kalau naik, trus ada naik lagi entar, ujung-ujungnya sampai ke Cideng, Sedangkan kalau tidak naik tanjakan itu, kita bisa belok kiri ke arah Sudirman. (Maap ya, i’m not good with streets :D). Aku kira kami akan mengambil jalan naik ke tanjakan, jadi ya aku santai saja, mengambil jalur tengah dan menambah gas.

Tiba-tiba tepat 10 meter dari tanjakan, Pak A berkata lirih,

”kita ambil kiri ya”,
”ke Sudirman?” jawabku panik.

Bukan kenapa-kenapa, tapi karena kami sudah diujung banget sebelum tanjakan. Bagaimana caranya aku mau ambil jalur kiri coba?!!? Otomatis langsung sen kiri, dan siap-siap belok... Gerakanku yang tiba-tiba membuat motor di sebelahku yang juga sudah ambil ancang-ancang untuk naik tanjakan menjadi kaget dan hampir saja terjatuh. Untung saja dia cukup lihai menghindar sehingga kecelakaan tak terjadi. Tapi tentuuu, setelah berada di depan mobil ku, si pengendara motor menyempatkan diri untuk menoleh ke belakang dan memelototiku.... :D Dan aku hanya bisa tersenyum penuh penyesalan....

”maaf ya....don’t mean to ”


Sebenarnya aku jadi ingin teriak ke Pak A

“will u stop talking and start working” :P

Hehe, tapi enggak mungkinlah…. Namanya orang sedang dilanda musibah.. Kita yang mendengarkan harus mencoba mengerti dan bersimpati pada kesedihannya. Apa jadinya jika tidak ada orang di sekitarnya yang memberi support :) Walau aku tahu benar sih, pembicaraan di mobil itu sebenarnya tidak akan mengurangi kesedihan Pak A. Dia hanya sedang membutuhkan teman bicara.

I’m sorry for u Mr. A...

Hikmah dari kejadian itu adalah…. Hm... aku menjadi semakin bingung dengan misteri jodoh. (nah lho, kaya gitu hikmah ya namanya?). Pak A sempat bertanya

“kok bisa ya, orang yang sudah bersama selama belasan tahun, tiba-tiba pergi gitu aja dengan orang lain yang baru dikenal”

Hm…. Bingung jawabnya… ~~ Karena aku juga enggak tahu Pak A... It’s a big mystery for me, too. I don’t have the answer…. Apa sih yang pasti di dunia ini? Dari mana kita bisa yakin seseorang adalah jodoh kita atau bukan? Apakah pasti bahwa orang yang kita nikahi adalah jodoh kita? Bagaimana dengan perceraian, dan kemudian terjadi pernikahan dengan orang lain? Maka dari tulang rusuk siapakah sebenarnya kita tercipta?? -> khusus wanita yang ini :P

Don’t know…don’t know… please don’t ask me, cause my intuition has been fooling me for all these time in this particular problem :D

Finally, vacation!


Hari ini aku mendapat sedikit kelegaan dalam rutinitas membosankanku (a.k.a work).. Akhirnya aku mendapat keputusan bahwa aku tidak harus masuk kantor pada tanggal 15-16 Oktober nanti (FYI, itu hari ke tiga dan ke empat lebaran)…. Fiuh… fiuh…. You don’t know how relieve I am.. Bukannya enggak cinta, bukannya enggak berbakti, tapi lebaran gitu lho…. Dan bukannya aku memiliki rencana besar menakjubkan di cuti bersama itu…… It’s just that, I do feel that I have the right to take a rest from routine... (don’t I??)

Tadinya sedikit merasa bersalah karena dengan liburnya diriku, kukira seorang co-worker sesama Officer terpaksa harus ditolak permohonan cutinya. Ternyata tidak! Mr A tetap mendapatkan cuti untuk tanggal 17-18 Oktober. Ok, everybody happy then! :)


Senangnyaaaa ada cuti bersama :) Kenapa aku segirang ini dengan cuti bersama??? Karena.. hiks, tidak seperti pegawai-pegawai lain yang sudah memiliki hak cuti. I don’t have it. At least sampai tanggal 19 Juni 2008. Yaitu tepat terhitung satu tahun sejak hari pelantikanku. Kejam ya, 13 bulan pendidikan ODP sama sekali tidak dihitung. Artinya selama 25 bulan pertama kerja di BM, aku tidak mendapat hak cuti! :| Sekarang mengerti kan kenapa aku stress? :D Dan enggak heran kalau temanku sesama ODP disarankan pergi ke Psikolog oleh orang tuanya… We’re so pathetic, haha! :))


Monday, September 24, 2007

Kawat bergigi, eh.... gigi berkawat! :D

Cerita Kawat

Kadang-kadang lucu melihat perubahan standar yang terjadi di masyarakat kita. Dahulu orang yang menggunakan kawat gigi akan dinilai sebagai orang berpenampilan aneh, tidak menarik dan sebagainya… Pokoknya enggak banget deh! Tapi lama-kelamaan kok kawat gigi malah menjadi trend ya? Mulai dari ABG, anak kuliahan, sampai artis-artis yang umurnya kepala 4 juga tidak mau kalah rame-rame memakainya.

Menurutku, orang yang memakai kawat gigi memang justru terlihat lebih ‘cute’ instead of nerd. Dan justru menarik. Kenapa? Karena dengan dia memakai kawat, itu menunjukkan bahwa dia adalah orang yang cukup peduli pada kesehatan giginya.

Lanjut ah, kawat gigi sendiri katanya ditemukan oleh Edward H. Angle pada abad 17. Walaupun konon, jauh sebelumnya bangsa Mesir telah menggunakan sistem semacam kawat gigi untuk merapikan giginya.

Dan kenapa sih perlu memakai kawat? Apa semua orang memang memerlukannya? Jawabnya tentu saja tidak, yang membutuhkan kawat gigi hanyalah orang-orang yang memiliki kelainan letak gigi (maloklusi). Oklusi sendiri adalah keadaan hubungan antara gigi rahang atas dan bawah pada saat menutup. Sebagian besar orang memiliki oklusi yang tidak ideal, bahkan dapat dikatakan 80 % manusia di dunia perlu memakai kawat gigi! (waduuh, kok banyak :O)

Hoho... kawat gigi di sini dibutuhkan untuk memperbaiki letak gigi yang tidak pada tempatnya. Misalnya: bertumpuk dan berjejal-jejal sehingga kekurangan tempat (karena rahang terlalu kecil padahal giginya besar-besar), tumbuh terlalu jarang (giginya kekecilan gitu?) sehingga ada celah di antara gigi-gigi (gak enak kan, kalau makan sering nyangkut :P), atau letaknya terlalu maju atau mundur (neither is good.. ). Jika tidak cepat ditangani masalah itu dapat mengakibatkan gigi mudah berlubang, menimbulkan karang, sampai gangguan kesehatan lain seperti sakit kepala dan pundak. Dan semuanya berasal dari gigi.

Di Indonesia sendiri, menurut yang saya baca, maloklusi ini menduduki peringkat ketiga untuk masalah gigi setelah gigi berlubang dan penyakit gusi. Hoo, ternyata banyak ya yang membutuhkan kawat gigi di Indonesia :D

Tapi tentu saja tidak semua orang yang diindikasikan memerlukan kawat gigi akan serta-merta memakainya. Kenapa? Ada beberapa pertimbangan, yang pertama mungkin dikarenakan rasa sakit dan tidak nyaman yang diakibatkan adanya benda asing di mulut kita. Wajar tentu. Dalam beberapa kasus, bahkan sampai timbul sariawan di gusi yang bergesekan langsung dengan kawat. That must be hurt! :| Pertimbangan kedua, memerlukan ketelatenan dalam memakai kawat gigi. Intinya sih perlu ada komitmen kuat dari pemakai sebelum dia memakai kawat gigi. Karena tentu saja, menjadi pemakai kawat gigi akan lebih merepotkan dibanding tidak. Kita tidak lagi dapat makan seenaknya. Makanan yang lengket, bersoda, atau keras tidak lagi menjadi pilihan yang baik. Pemakai kawat juga harus lebih rajin membersihkan giginya, yaitu setiap habis bersantap dengan sikat gigi khusus yang menjangkau sela-sela kawat. Pertimbangan ketiga, masalah biaya tentu. Karena kawat gigi memang tidak murah. Untuk kawat yang terbuat dari metal sekarang ini kisaran harganya untuk di Jakarta adalah sekitar 5-10 juta rupiah, tergantung dokter giginya tentu. Itu range harga untuk dokter normal. Untuk dokter-dokter abnormal alias beauty dentistry, biasanya harga akan lebih mahal. Untuk berbahan non metal, dibagi lagi jenisnya. Ada yang composite (katanya ini non metal paling murah, berbeda sekitar 1 jutaan dengan yang metal, CMIIW), keramik, dan plastik. Intinya sih, semakin berkualitas bahan kawat yang digunakan, harganya tentu akan menyesuaikan :) Untuk masalah harga ini, biasanya dapat dinegosiasikan dengan dokter gigi yang bersangkutan. Banyak dokter gigi menawarkan program cicilan 2 tahun dengan bunga 0 % :D

Terus..terus... untuk apa aku membahas kawat gigi begini detail? Hasrat terpendam menjadi dokter gigi? Tentu tidak, walau pilihan kedua di UMPTN ku adalah KG UGM, tapi aku sama sekali tidak tertarik menjadi dokter gigi :D (untung keterima di ITB :P). Survey dan pencarian info tentang kawat gigi ini sebenarnya berhubungan dengan my next thing to do. Yes, it’s wearing braces! :D

Alasan estetika? Tentu sedikit banyak pasti ada hubungannya ke sana. Tapi memang, aku termasuk dari 80% manusia di dunia yang sebenarnya memerlukan kawat gigi. Kenapa? Karena diriku adalah ”korban” dari pernikahan antara rahang besar-gigi besar dengan rahang kecil-gigi kecil. Hiks, jadilah aku si rahang sangat kecil dengan gigi kebesaran, yang akhirnya berdesak-desakan berusaha mendapat ruang. Bahkan gigi geraham ku yang paling ujungpun tak dapat tumbuh, karena there are no space left in my mouth for them :( Jadi kalau di rontgen cuma kelihatan 4 gigi geraham bungsuku ada di bawah gigi geraham belakang (yang sebelum bungsu namanya apa ya?)

Sebenarnya sejak semasa SMA aku sudah tertarik ingin menggunakan kawat gigi. Tapi entah kenapa selalu ditunda-tunda. Nanti dulu ah, entar kalo udah kuliah ah, apa lah... Akhirnya tiba-tiba baru sadar kalau sekarang benar-benar harus segera memakai kawat gigi! Kakakku saja telah memakai kawat semenjak awal kuliah. Agak menyesal juga diriku, kenapa enggak dari dulu ya... ~~

Yah, sudahlah apa gunanya penyesalan... Yang penting sekarang adalah, akhirnya aku benar-benar akan segera memakai kawat gigi. Hari Sabtu (22/9/07) yang lalu aku telah menyambangi praktek drg. Harsoyo di bilangan kampung melayu. Kebetulan beliau adalah dokter gigi kepercayaan ayahku semenjak drg. ini masih dinas di LADOGI AL di daerah Benhil. Sekarang beliau telah pensiun dan berpraktek sendiri. Bisa dibilang tempat prakteknya yang sekarang agak menyedihkan untuk dokter gigi :D Tapi aku tetap lebih memilih dia dibanding dokter-dokter gigi muda, apalagi yang baru lulus. Entah kenapa, aku selalu lebih prefer dengan dokter yang senior (maap ya yang muda-muda :p). Memang sih jauh banget tempat prakteknya. Karena itu aku seringkali mencoba-coba dokter gigi baru yang lebih dekat dari rumahku. Tapi hasilnya kok selalu mengecewakan ya... Let’s see... sewaktu di bandung, aku pernah mencoba drg di borromeus, pernah juga drg dekat kosannya temanku, pernah juga drg di bilangan Setiabudi. Tapi tetap, akhirnya aku lebih memilih bela-belain pulang ke jakarta untuk ke tempat drg harsoyo lagi. Sewaktu di jakarta, aku juga pernah mencoba drg di dharmawangsa square, dokternya masih muda tapi cerdas. Yang nyebelin cuma tagihannya :P Pernah juga mencoba drg di laser dentistry dekat rumah, sudah kecewa sebel banget pula... Masa’ bersihin gigi saja 700 ribu!!! Perampokan itu namanya >:) Selain itu juga pernah mencoba drg di siloam hospital kebon jeruk. Drg tua sih, tapi entah kenapa beda sama drg harsoyo.. Mungkin karena sudah kenal sama drg yang teliti, sabar, telaten, dan pintar, aku jadi sangat pilih-pilih terhadap drg yang lain. FYI, dia spesialis bedah mulut dan orthodentist... what more can u expect from a dentist? Dan lagi, drg Harsoyo juga selalu mematok harga yang meringankan... walau... kadang menyebalkan karena di tempat prakteknya yang sekarang kita harus selalu bayar tunai, tidak bisa gesek, apalagi kas bon :D

Tunggu..tunggu… kok aku jadi promosi drg ya? ~~

Hm…back to the topic. Akhirnya sabtu lalu gigi geraham di sebelah taringku, semuanya dipasangi dengan karet. Tujuannya adalah membuat ruang antar gigi, sehingga sabtu depan dapat segera dipasang cincin besi di gigi-gigi geraham tersebut. FYI, cincin besi digunakan sebagai tempat menyangga (menyangkutkan) kawat gigi nya. Begitu lhoo. Bagaimana rasanya? Atiiiiitttt ;( Ngilu-ngilu semua gigiku.... Sampai sekarang aku tidak bisa makan makanan yang keras-keras… Akhirnya jadi kelaparan karena males makan -> karena capek ngunyahnya.. :( hiks…. Dan kabarnya, penderitaan ini sama sekali belum seberapa…. Huuuaaaaa… sabaaar…sabaar….

Oh iya, ini dia beberapa link tentang kawat gigi…. :

1. Depkes

2. Tabloid Nova

3. Info Sehat

4. MyQuran


Sunday, September 23, 2007

What’s on your face?

Sesama perempuan kadang-kadang kita merasa iri melihat perempuan lain yang ‘lebih’ dari kita. Lebih cantik, lebih putih, lebih langsing, kakinya lebih panjang, rambutnya lebih bagus, atau lebih-lebih lainnya yang terkesan fisik sekali.


Aku dan beberapa teman ODP pernah merasa seperti itu, yaitu di saat kami berada di sekitar orang-orang Consumer Card Group :)) Yah, pasti kamu mengerti apa yang aku bicarakan. Perempuan normal mana yang tidak akan merasa gak pede dikelilingi perempuan-perempuan cantik nan modis yang berkumpul di satu tempat..


Untuk mengatasi kejadian seperti itu, temanku akan mengatakan...

”tenang.... mereka mungkin punya tampang, tapi kita punya otak”
:)) Yah, pembelaan diri seperti itu yang sering kami, para perempuan ODP kemukakan untuk tetap percaya diri! Telah lama diketahui... (kaya dongeng aja :D) bahwa memang perempuan-perempuan ODP tidak hanya memiliki penampilan menarik (walau tidak se..hm.. seatraktif perempuan-perempuan Cons Card Group tadi), tapi juga kami harus memiliki otak untuk dapat mencapai apa yang sekarang kami miliki. Tidak cukup hanya modal tampang memang... walau harus diakui, penampilan adalah salah satu hal yang TIDAK BOLEH dilupakan. Karena well, pekerja di suatu perusahaan haruslah mencerminkan perusahaan tempat dia bekerja. Dan bila kamu bekerja di perusahaan yang menjual jasa, sangat penting sekali untuk selalu tampil meyakinkan... Karena afterall, your appearance represents your company.


They taught us well in The John Robert Powers, bagaimana cara berdandan untuk para wanita, bahkan cara berjalan dan duduk yang baik.. dan tentu saja cara makan. Walau tentu saja, banyak hal yang tidak kupraktekkan dalam kehidupan sehari-hari... (Karena rasanya enggak sepenting itu untuk duduk manis tapi membuat kakiku pegal linu :P)

Yang kupraktekkan hanyalah konsisten berdandan setiap hari :D Yah, karena pekerjaan ku di bank, dan aku memang harus berdandan. Dan pada dasarnya harus kuakui bahwa memang aku adalah seorang pesolek. So, i enjoy it... :) I’ve learn that...kita enggak perlu iri dengan perempuan lain yang lebih cantik atau apapun. Aku percaya bahwa cantik itu memang perlu usaha. Bahkan orang yang dilahirkan cantik pun perlu berusaha untuk mempertahankannya. Everybody can be beautiful, darling! That’s the power of make up :) (hoho…serasa make up artist aja ngomong gini)


Suatu ketika aku bertemu dengan teman lama, dan dia mengatakan bahwa itu adalah kali pertama dia melihatku dengan make-up di wajah... Tentu saja aku tidak berdandan untuknya, i do it everyday now, for me... Yup, for me.. memang ada kepuasan tersendiri jika kita berpenampilan baik. Yah, untuk orang perfeksionis seperti diriku, hal-hal seperti itu memang penting :))


Sedikit bocoran tentang kotak make-up ku, I’ll told u what’s on my face.. Hm..sehari-hari aku memakai (sesuai urutan):

  1. Moisturiser
  2. Concealer untuk bawah mata
  3. Foundation
  4. Bedak tabur
  5. Blush on
  6. Eye shadow
  7. Eye liner
  8. Penjepit bulu mata
  9. Mascara
  10. Eye brow pencil
  11. Lip liner
  12. dan terakhir tentu saja lipstick


No 5-12 plus sebuah compact powder dengan cermin selalu ada di dalam tasku ke mana pun aku pergi, Karena ….. setelah seharian kerja atau setelah lari-lari, atau bahkan makan siang, kita perlu touch up. Terutama setelah berwudhu ya girls…


Tuh, I’ve told u… :) gampang kaaannn (pasti sebagian besar temen cewek yang gak suka dandan bakal semangat ngegebukin gw, gampang dari Hongkong?!!? Huehehehehehe…). Tapi beneran deh, bisa karena biasa…. Kalau sudah terbiasa tidak ada lagi perasaan bahwa itu adalah merepotkan dan sebagainya. Afterall, perempuan kan memang makhluk yang cantik ;) And I do believe, girls have to be look like girls (apa woman ya? ~~).

Done it!

A long time ago...seorang teman pernah mengingatkanku.. tentang, betapa pendeknya hidup kita ini. Untuk menghargai hidup yang pendek ini, kita sebaiknya menjalani setiap hari dengan optimisme layaknya ini adalah hari terakhir kita di dunia (hah optimisme?? hell yea..)

I’ve been thinking about it for some times.... Dan walau aku sangat mengerti ke mana arah pembicaraan teman tadi sebenarnya, aku melihatnya dari sudut pandang yang berbeda. Dan akhirnya…. I’ve found my own conclusion :)


Kesimpulanku adalah…. aku ingin sekali melakukan hal-hal baru yang selama ini belum sempat kuwujudkan…. Just live my life….


Salah satu hal konkret yang telah kulakukan…. Hm…. Hm…. Let’s just say…. I have this thing with height :) Entah kenapa aku tidak pernah merasa nyaman berada di ketinggian…. Aku sendiri tidak ingat kapan hal ini bermula…. Yang pasti, aku memang amat sangat menghindari ketinggian. Ketakutanku ini memang terasa agak keterlaluan, apalagi akhirnya aku bukan hanya menjadi takut ketinggian saja, aku pun menjadi freak out dengan hal-hal lain yang berhubungan dengan jatuh, bila berada terlalu dekat dengan pinggir sungai misalnya…atau bahkan berjalan di pematang sawah! Ketakutan ini seringkali membelengguku. Seperti misalnya semasa SMP di SMP 6 Jogja. Setiap awal cawu guru olahraga kami pasti mengadakan ujian lari. Ujian lari ini bukan mengelilingi stadion atau sejenisnya. Melainkan melintasi pemukiman dan pedesaan tak jauh dari letak sekolah kami. Teman-teman yang lain seringkali mengambil jalan pintas melewati persawahan (karena guru olahraga kami tidak pernah repot-repot mengikuti ujian lari ini. Dia hanya menunggu dengan manis di garis finish). Sementara aku?? Hiks... walau kaki ini sudah luar biasa pegel dan rasanya mau copot... Aku terpaksa berlari di rute yang sebenarnya dan melupakan jalan pintas melewati persawahan. Kenapa? Karena aku takut ada ular? Kodok? Tikus? Atau takut kena lumpur sawah? Salah semua! Yang benar ya tentu saja karena aku takut melewati pematang sawah... Bodohnya... :|


Beberapa tahun kemudian, ketika akhirnya ak
u bekerja.. Aku sebenarnya telah mendengar bahwa kami para ODP harus lah melewati tantangan outbond untuk membuktikan bahwa kami memang orang yang tepat untuk pekerjaan ini. Jadi outbond tadi jelaslah bukan sekedar ”just have fun thing”, melainkan sesuatu yang berhubungan dengan penilaian kami. Daaan, yaa, banyak permainan yang berhubungan dengan ketinggian di sini >:) Untuk beberapa bulan, aku selalu ketakutan menanti datangnya hari outbond itu...... Singkat kata, i would do anything to pass it! A-N-Y-T-H-I-N-G! Even killing…. :| (hehe, kidding!)


Tapi apa dinyana, kita memang harus menyadari bahwa kenyataan tak selalu seperti apa yang kita inginkan… dan terkadang kita sebagai manusialah yang harus beradaptasi dengannya. Begitu pula denganku.


Akhir tahun lalu, aku pun menjalani outbond ODP ku… For your information, aku sangat-sangat stress sejak beberapa hari sebelumnya. Enggak bisa tidur, mimpi buruk, cranky all they long, being very sensitive, marah-marah enggak jelas sama semua orang, rasanya mau nangis terus..…. Hoho…pokoknya I was very annoying at that moment, trust me! ;P


Tapi akhirnya aku melaluinya… And guess what, aku melakukan semua tantangannya lho! Senaaaangnyaaaa…. :)


Pertama, Flying Fox… dan ini bukan flying fox dari pohon ke pohon…. Ini flying flox dari atas tebing bukit dengan melintasi lembah dan sungai di bawahnya.. Ketinggian yang enggak pernah aku bayangkan sebelumnya….. Kalau bisa sih aku memilih dari tingkat empat GKU baru saja deh.. :( I’m so freak out off course. Tapi setelah lamaaa dibujuk-bujuk dan berusaha mengumpulkan semua nyali yang kumiliki untuk mengalahkan rasa takut itu, akhirnya aku melakukannya…. And it really feels great! Sensasi berada di ketinggian ternyata bisa menjadi sangat menyenangkan… Aku benar-benar baru mengetahuinya. Dan aku bersyukur karena tidak melewatkan kesempatan itu.


Yang kedua, ternyata lebih bikin stres… yaitu melewati seutas tali dengan berpegangan pada satu tali masing-masing di satu tangan. Aku lupa tepatnya apa nama permainan ini. Yang pasti, komando benar-benar ada pada diri kita, karena tidak ada rel yang akan menarik badan dari ujung ke ujung…. Kaki kita lah yang harus melakukannya! Hiiiyy….Akhirnya, walau perlu 7 menit penuh perjuangan untuk berjalan, tapi aku berhasil melewati tali langsing itu, yippie! Jantungku serasa mau copot dari ototnya sesampai aku di ujung… Sekilas aku melirik ke bawah… hiy…. Not again!


Tantangan ketiga, even harder.. Mirip dengan yang kedua, hanya saja… kita cuma punya 1 tali untuk berpegangan. Jadi di sini keseimbangan lah yang benar-benar harus dipertahankan. Aku sempat bertanya kepada instrukturnya, ”bagaimana kalau saya jatuh?”. Dengan enteng dia menjawab, “ya nanti dijemput pake perahu di sungai, karena tali pengamannya kan panjang, jadi kalo jatuh bakal langsung nyemplung ke sungai” What the!?@!? :| grmbl-grmbl… singkat cerita, karena dilumuri dengan perasaan kesal dan gengsi untuk mundur, akhirnya aku pun berhasil melewati tantangan ini dengan sukses!! Yeaaaa!


Tantangan-tantangan berikutnya tidak berhubungan dengan ketinggian, jadi aku tidak ada masalah yang terlalu berarti dengannya. Takut? Tentu ada perasaan takut awalnya, tapi tidak sama seperti apa yang kurasakan untuk ketinggian.


In the end, moral dari cerita ini adalah I’ve Done It! Walau sangat takut, tapi aku akhirnya tidak lagi lari dari ketakutanku pada ketinggian. (Karena ya… selama ini aku selalu melarikan diri darinya). Dan ternyata efek dari keberanian ini tidak hanya penting untuk penilaian, melainkan juga membuat diri kita percaya bahwa kita benar-benar bisa melakukan hal-hal baru, hal-hal yang selama ini kita kira tidak akan pernah bisa kita lakukan…. And the great thing is, it’s kinda remind me, ke awal cerita ini. Itu lho perkataan temanku, tentang hidup yang singkat. Ya, aku percaya hidup kita ini memang singkat, jadi lakukanlah hal-hal baru sebanyak mungkin, jangan ditunda-tunda lagi.. Sebagai manusia, kita memiliki banyak sekali potensi, yang akan amat sayang bila tersia-sia hanya karena alas an-alasan konyol yang sering kali kita buat-buat sendiri. Seperti aku dan ketakutanku pada ketinggian :) Makanya, jangan ditiru ya kebodohanku yang dulu itu.. :)) Just live your life!

Voila, I’m here!

Hello there, yep I’m back… J

Aku sendiri tidak tahu angin apa yang membawaku kembali ke halaman hijau ini (I really must make-over this page!)… Selama ini sudah beberapa orang yang memotivasiku untuk kembali menulis.

“Supaya tau kabarnya”, begitu kata mereka…. Sebenarnya ingiiiiiiinnn sekali dari dulu melanjutkan menulis… Tapi entah kenapa begitu banyak hal di kepalaku sampai-sampai aku sendiri membutuhkan waktu to untangle my mind…fiuh..

Dan sampailah aku di sini, tidak terasa sudah dua tahun lebih sejak posting terakhirku.. Wow, kita memang tidak pernah bisa menduga ke mana hidup akan membawa kita ya J

Terakhir posting, aku bahkan belum menyelesaikan TA ku, masih berstatus mahasiswa... Dan sekarang...... Wuih there are lot of changes in my life in this past two years...


Hm... let me start:

  1. Aku lulus kuliah! Haha, akhirnya :D

Aku menjalani sidang tugas akhir pada 9 Januari 2006, dan kurang dari dua bulan kemudian, tepatnya 4 Maret 2006 aku resmi keluar dari Sabuga ;) bangganya...... hiks terharu.... (hiperbolis sekali!)

  1. I’ve got my first Job!

Setelah gagal menjalani dua job interview, akhirnya aku diterima di sebuah Bank nasional untuk mengikuti pendidikan sebagai calon officer mereka. This was a really dream job for me... Aku tidak lagi harus berkutat dengan programming and stuff to make a living ;) sounds just perfecto!

  1. I thought I’ve found love of my life!

-okay, there won’t be any further information bout this ;P- But don't forget to underline the word 'thought' :)

And a lot of other details… yang rasanya tidak perlu dituliskan di sini… J

The point is… I’m back!! For good I hope J

Sunday, July 10, 2005

Happy Birthday Me :P Thank you all!

Akhirnya, setelah satu tahun menikmati berada pada umur 21 tahun, kini usiaku bertambah lagi.

Tepat pada tanggal 2 Juli kemarin kumasuki usia anagramku, 22 tahun. Fiuh...

Berat...berat.... begitu pikirku berhari-hari sebelumnya. Berat karena tanggung jawab yang akan datang semakin terbayang di kepala ini (don’t be to melancolic ah Din!), berat karena semakin berkurangnya periodeku di dunia ini... berat karena dosa-dosaku kian menumpuk sementara pahala tak juga kutambah, berat karena...karena.....

Argghhh!

Akhirnya kutepiskan segala berat yang menggelayuti pikiranku, dan mencoba menikmati ”hari bahagiaku”. Dan aku pun mulai me-list hal-hal membahagiakan yang terjadi pada Ulang tahunku. Berikut ini ceritanya.

Pertama-tama (dan memang yang paling utama), aku merasa sangat terharu karena sejak beberapa hari sebelum hari-H, inbox message di Friendster ku menumpuk dengan ucapan selamat ulang tahun. Maklum, Friendster memang memajang foto orang yang akan berulang tahun, di ’top’ dari daftar teman seseorang. Aku mendapat berbagai ucapan, ada yang lucu, ada yang menyentuh, ada juga yang menyentak dengan tausiyahnya yang membangunkan jiwaku yang terlena. Ada yang berasal dari orang yang dekat, ada juga yang berasal dari orang yang jauh, seperti Pak Wikan _dosenku yang sedang S2 di seberang lautan sana_ :), bahkan ada yang berasal dari cyber friends, yaitu teman-teman yang tak pernah kukenal di dunia nyata. Subhanallah... terharu sekali aku.

Itu masih beberapa hari sebelumnya, belum lagi menginjak tanggal 2.

Dan pada tanggal 2, tepat pada jam 00:00 dini hari, telepon dan sms mulai memenuhi memory HP ku. Senang sekali... :) ”kok ya pada inget dan menyempatkan diri untuk nyelamatin yah?” begitu pikirku.

Tapi begitulah adanya.

Terbayang wajah teman-teman yang menelepon dan meng-sms itu... Kutelusuri sel-sel otak ini untuk mencari sekeping memoryku dengan mereka. Dan akhirnya kusadari, tidak semua dari teman-teman itu kuketahui hari ulang tahunnya! Sedangkan dari yang kuketahui, tak semuanya kukirimi _bahkan sekedar_ ucapan selamat pada hari bahagianya.

Arrgghh Dinie!!! What an awful friend you are!

Rasanya aku benar-benar harus menghentikan laju pertumbuhan ke-sanguinis-an dalam diri ini. Bagaimana tidak, dalam beberapa tahun terakhir ini aku telah kehilangan berbagai sifat khas melankolis yang tadinya melekat padaku. Salah satunya adalah selalu mengingat ulang tahun teman-teman. Terkesan remeh dan enggak penting mungkin. Tapi hal-hal sekecil itulah yang menjadi cerminan rasa sayang dan perhatianku pada mereka. Saat ini, sepertinya sifat sanguinis semakin mendesak ke-melankolis-an ku. Rasanya aku semakin egois dan terlalu memikirkan diriku sendiri. Ke mana perginya Dinie yang sensitif itu? Hm...... kita memang tidak bisa mendapatkan semuanya dalam satu waktu. Harus ada kompromi dari satu hal atas hal lainnya. Semoga saja aku menjadi (kembali) lebih sensitif di kemudian hari, dan tidak terlalu sibuk mengurus urusanku saja sehingga dapat menjadi seorang teman yang lebih berharga untuk dimiliki.

Dan ucapan selamat ulang tahun pun terus mengalir, walau kalender telah menunjukkan tanggal 3, tanggal 4, dan seterusnya. Bahkan sampai dengan tanggal 9 kemarin pun masih ada seorang teman yang mengucapkan selamat ulang tahun padaku (walau telatnya ”enggak banget” sih , hehe maap yak! :P), sungguh kuhargai semua itu.

Terimakasih semuanya.... ! :) Thanks for the friendship that you give…. Sementara itu, buat teman-teman yang enggak inget ulang tahunku…. Waduh-waduh mbakyu, kangmas... kudo’akan semoga cepat insyaf, dan segera kembali ke jalan yang benar, haha! :))